Prof Hafidz Abbas: Managing of Papua With Heart

Urbantimes, Jakarta – Mantan Ketua Komnas HAM Prof Hafid Abbas mengatakan bahwa untuk mengelola Papua itu harus dari nurani. Menurut Ketua Senat UNJ ini Papua harus dikelola dengan sentuhan jiwa yang paling dalam.

“Saya banyak menulis di berbagai media internasional mengenai Papua. salah satunya di JawaPost terkait dengan persoalan Papua yang berjudul, Managing Papua With Heart, dalam tulisan itu intinya ada sentuhan universal yang harus digunakan oleh kita semua untuk mengelola Papua,” kata Prof Hafidz Abbas dalam webinar IDN kolaborasi Kapten Indonesia Papua Barat, Kamis (16/10).

Terkait dengan itu, lanjut Prof Hafidz Abbas, ada satu teori dan ini pernah dikemukakan oleh Sekjen PBB Koffie Anand, dia bilang tidak ada pembangunan tanpa keamanan negara, dan tidak ada keamanan negara tanpa pembangunan.

“Dan tidak ada keduanya, jika tanpa adanya penegakan HAM. Bahwa dalam kehidupan kita, termasuk di Papua ini, tidak mungkin kita bisa membangun kalau keadaan itu tidak aman. Bayangkan jika ada konflik sosial, benturan warga, sipil dan pemerintah dan seterusnya, kita tidak mungkin bisa membangun,” pungkas Pria asal Bone ini.

lalu, terang Prof, tetapi juga masyarakat tidak bisa hidup dengan damai menikmati kehidupan bahagia bersama jika tidak ada air, tidak ada listrik, tidak ada rumah sakit, tidak ada sekolah, tidak ada jalan, dan seterusnya.

“Tetapi kedua hal ini mustahil ada, jika tidak ada penegakan HAM. Tidak ada pemanusiaan manusia di dalamnya,” tegas Guru Besar UNJ ini.

Selain itu, Profesor bidang ilmu Pendidikan ini menyampaikan, bahwa di Indonesia ini memiliki empat keunggulan yang menyebabkan kita perlu memperhatikan ketiga itu tadi.

“Pertama Indonesia merupakan raksasa di ASEAN. Jika ada kemajuan di ASEAN, maka itu adalah Indonesia sebenarnya. Inilah yang perlu kita terus tanamkan, kebesaran bangsa kita ini bersama-sama di lingkup ASEAN,” kata Prof. Hafidz.

Kedua, lanjut Prof, kita juga besar di lingkungan kebijaksanaan. Misal, kita bisa mengendalikan politik Islam di luar negeri.

“Yang ketiga, kebesaran Indonesia ini adalah pioneer, pendiri dan penentu haluan gerakan negara non-blok. Jadi Indonesia punya peran penting dalam pembangunan, security dan kemanusiaan dunia, jika kita tidak punya permasalahan di dalam,” katanya.

“Keempat, Indonesia ini adalah merupakan anggota dari PBB dan begitu powerfull dalam menciptakan perdamaian dunia. Hanya saja, ada luka-luka di dalam yang harus dibereskan di dalam bersama Papua,” lanjut Prof.

Misalnya, pertama, maslaah dignity. kita nampak tidak memperlakukan saudara-saudara kita dengan layak dan bermartabat. Contohnya, kasus mahasiswa di Surabaya dan Malang yang lalu.

Jadi ada pandangan bahwa kita menganggap berbeda dengan orang-orang Papua. Untuk memperkuat dignity ini, kita perlu merangkul orang Papua. Jangan dianggap mereka ini inferior.

“Beri mereka kesempatan misalnya pemberian porsi jabatan-jabatan politik bagi orang Papua. Yang kedua adalah persoalan keamanan. Kita lihat beberapa hari kebelakangn ini,kita disibukkan isu konflik Papua masih belum berkesudahan yang menjadi permasalahan isu internasional tetapi kita belum bisa selesaikan dengan baik. Waktu saya di Komnas HAM banyak sekali, kasus ini kasus itu dan seterusnya,” tutur Ketua Komnas 2012 – 2017 ini.

Sebelumnya, IDN Akademik menggelar Webinar bertajuk “Narasi Damai di Bumi Cenderawasih; Antara Otsus dan Pemekaran Papua,” yang dilakukan secara daring, pada Kamis (15/10). Hadir diantaranya adalah Wakil Ketua DPR RI Aziz Syamsuddin. Asisten Stafsus Presiden RI Nanni Uswanas, Pengamat Politik Ray Rangkuti, dan Kasubdit Otsus Dirjen OTDA Kemendagri Budi Arwan.

Webinar ini dihadiri oleh 200 partisipan dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Dalam kesempatan itu, Direktur IDN Amir Wata mengatakan bahwa Papua harus maju dan sejahtera lebih lagi dengan memanfaatkan dana Otsus ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here