Orang Tua Adalah Partner Kerja Sekolah

Oleh: Wuri Krisharyanti, S.Pd

Pada masa pandemi seperti saat ini, mayoritas sekolah melaksanakan sistem pembelajaran secara daring atau bimbingan belajar jarak jauh. Banyak sekali keluhan yang disampaikan oleh orang tua mulai dari perangkat untuk belajar seperti gadget, kuota internet, sinyal internet yang susah untuk di jangkau hingga mengenai perilaku anak-anak mereka. Untuk platform yang di gunakan sebagai wadah kegiatan pembelajaran,pihak sekolah menggunakan platform Zoom, Google Meeting, WhatsApp Grup atau yang lainnya yang dirasa sesuai dengan karakteristik peserta didik. Pemerintah juga telah memberikan bantuan berupa paket kuota internet untuk belajar demi kelancaran proses belajar jarak jauh.

Namun demikian, hal ini tidak serta merta di imbangi dengan semangat belajar peserta didik. tidak semua peserta didik memilik gadget dan jaringan internet yang memadai. Selain itu juga, proses pembelajaran jarak jauh membatasi pendidik dalam melkaukan proses mendidik. Hal-hal yang tidak bisa di lakukan oleh pendidik dalam proses belajar jarak jauh ini adalah mendidik dan memantau sikap peserta didik. proses pendidikan karakter tidak bisa menjangkau sampai ke jiwa peserta didik. Sentuhan-sentuhan dari hati ke hati tidak dapat dilakukan karena terbatasnya jarak. Sehingga tidak jarang kemudian orang tua mengeluhkan perilaku anak-anaknya. Bahkan mengelukan betapa capek dan susahnya membagi waktu antara tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai guru bagi anak mereka. Tidak jarang pula beredar video-video kegelisahan bahkan perjuangan seorang ibu dalam mendampingi anak mereka saat belajar dari rumah.

Kegiatan pembelajaran sejatinya adalah sebagai salah satu cara yang dapat berpengaruh besar dalam membentuk dan menciptakan sumber daya manusia yang bermutu. Melalui kegiatan pembelajaran, maka akan terbentuk manusia-manusia berkarakter yang sanggup mengaktualisasikan diri dan menjadi ujung tombak kemajuan peradaban. Pada situasi pandemic saat ini, kegiatan pembelajaran dilaksanakan menggunakan beberapa platform digital dan dilakukan secara daring. Orang tua berusaha mendampingi anak-anak mereka belajar dirumah.

Saat ini,kualitas peserta didik di Indonesia bisa dikatakan masih sangat jauh dari harapan sebagai generasi yang pintar dan mampu bersaing di kancah internasional. Selain kualitas kognitif yang diragukan, kualitas karakter peserta didik sebagai seorang yang terpelajar pun juga di pertanyakan. Mengingat makin maraknya anak-anak usia pelajar terlibat tawuran. Bahkan pada saat pandemik seperti sekarang ini pun, banyak siswa yang ikut turun ke jalan untuk melakukan demo.

Dalam hal inilah, peran orang tua sebagai partner sekolah sangat di butuhkan. Pembentukan karakter dan pembimbingan kepada anak sangat perlu ditekankan. Orang tua, saat ini memiliki banyak kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan anaknya dan bahkan lebih lagi mampu untuk memberikan sentuhan dari hati ke hati kepada anak-anak mereka.

Keadaan seperti pada masa pandemik ini seolah-olah menyadarkan orang tua bahwa ternyata melakukan proses mengajar sekaligus mendidik seperti yang dilakukan oleh guru di sekolah bukanlah suatu hal yang mudah. Keadaan ini juga sekaligus mengingatkan kembali akan peran orang tua sebagai partner kerja sekolah. Orang tua tidak dapat sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab mendidik dan membimbing anak mereka sepenuhnya kepada guru di sekolah.

Pembentukan karakter sejatinya dapat dilakukan sejak usia dini. Cara yang paling tepat adalah dengan mebiasakan hal-hal kecil untuk dilakukan dan dilatih berulang-ulang. Contohnya saja dengan mengajari anak untuk selalu mengucapkan kata tolong ketika membutuhkan pertolongan orang lain. kebiasaan yang terus dilakukan berulang ulang akan menghasilkan karakter seseorang. Dengan demikian untuk kedepan diharapkan pelajar Indonesia mampu menguasai dirinya dan sekaligus bertanggungjawab kepada dirinya dan lingkungan sekitarnya. Pembentukan karakter dalam keluarga juga merupakan sebuah pendidikan yang dilakukan di dalam keluarga.

Kebiasaan-kebiasaan ini akan menjadi sebuah karate seseorang dan karakter seseorang ini lah yang akan menjadi sebuah budaya dalam masyarakat. Bagi penganut Esensialisme pendidikan merupakan upaya untuk memelihara kebudayaan, “Education as Cultural Coversation” (Muhammad S. Sumnatri, 2015). Pedidikan memiliki tujuan menstranmisikan kebudayaan untuk menjamin solidaritas sosial dan kesejahteraan umum.

Dengan usaha menjalin kerjasama antara sekolah dan orang tua atau wali murid, maka akan terbangunlah sebuah sinergi yang saling mendukung demi perkembangan kehidupan individualitas, sosialitas, kultural, moralitas dan religius  pesera didik (Muhammad S. Sumantri, 2015). Sekolah memiliki fungsi utama dalam memelihara nilai – nilai yang telah turun-temurun dan menjadi penuntun penyesuaian orang kepada masyarakat.

Dengan menjadikan orang tua sebagai partner atau rekan kerja sekolah maka diharapkan akan tercipta sebuah kerjasama dalam mendidik peserta didik dan melakukan bimbingan serta melakukan kontrol pada peserta didik. Dengan adanya hubungan yang saling mendukung ini, maka akan terciptalah atmosfer yang positif dalam membentuk dan menghasilkan peserta didik yang berkualitas secara akademik, berkarakter hebat serta mampu bersaing di era industry 4. 0 ini.

 

Daftar Pustaka

Sumantri, Muhammad Syarif(2015). Pengantar Pendidikan. Banten: Universitas Terbuka

 

*Biodata Penulis

Nama : Wuri Krisharyanti, S.Pd.
Profesi : Guru Bahasa Inggris
Instansi : SMA Negeri 1 Way Pengubuan, Lampung
Pendidikan Terakhir : S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Email : wkrisharyanti@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here