Ini Sebab Penanganan Intoleransi Lebih Sulit Ketimbang Terorisme

  • Share
banner 468x60

URBANTIMES, JAKARTA – Fenomena intoleransi dan radikalisme agama di Indonesia masih cenderung menguat. Virus konservatisme keagamaan ini sudah menjangkiti berbagai aspek kehidupan, terkecuali lingkungan pendidikan. Konservatisme di lingkungan pendidikan ini biasanya terjadi dalam aturan berpakaian yang cenderung diskriminatif. Tentu persoalan ini memerlukan pola-pola penanganan yang komprehensif.

Direktur Eksekutif Setara Institute Ismail Hasani menilai penanganan intoleransi memang bukan perkara mudah. Bahkan jika dibanding dengan penanganan terorisme sekalipun, menurutnya, memberantas intoleransi terbilang masih lebih sulit.

banner 336x280

“Kajian Setara Institute menunjukkan bahwa memberantas kelompok intoleran justru lebih sulit daripada memberantas kelompok teroris,” kata Ismail Hasani, Sekretariat  Setara  Institute, Jakarta Selatan, belum lama ini (22/2/2021).

Salah satu alasannya, kata Ismail, adalah karena kelompok Intoleran bergerak pada saat negara  damai sedangkan kelompok teroris bergerak di saat negara tidak damai atau perang. “Sehingga lebih mudah untuk mengatasinya.”

Itu sebabnya menurut Ismail, penanganan intoleransi harus dilakukan sejak dini, terutama dari lingkungan pendidikan, mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi. Bagaimanapun, kata Ismail, lembaga pendidikan merupakan salah satu arena yang penting untuk menanamkan atau menginternalisasikan semangat toleransi. Sehingga, wabah intoleransi bisa diamputasi agar tidak menjadi virus terhadap generasi bangsa ke depan.

Hal lain yang bisa dilakukan, kata Ismail, adalah restrukturisasi pengelolaan masjid-masjid. Ini dilakukan agar masjid kembali ke fungsi utama sebagai tempat ibadah, tempat melakukan pendidikan dan tempat untuk melakukan penyadaran.

“Masjid perlu melahirkan ulama-ulama yang bisa mengajak perdamaian sesama umat dalam setiap mengisi ceramah dan khutbah Jum’at dimasjid,” pungkas Ismail.

Sebelumnya, publik dikejutkan oleh kasus pemaksaan jilbab di sekolah negeri. Kasus tersebut terjadi pada seorang siswi kelas X SMKN 2 Padang Jeni Cahyani. Namun ia menolak menggunakan jilbab tersebut yang berujung pada pemanggilan wali murid Jeni ke sekolah.

Kasus lain yang tak kalah penting adalah kasus intervensi pemilihan oleh guru terkait calon beragama minoritas seperti OSIS di SMA 58 Ciracas, dan OSIS SMA Depok, Jawa Barat.

banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *