Sosok yang dibutuhkan Indonesia sebagai, Pemimpin Permadani Bangsa

  • Share
Sosok yang dibutuhkan Indonesia sebagai, Pemimpin Permadani Bangsa

Urbantimes.id – Indonesia sebagai sebuah nusantara yang terdiri dari beribu pulau yang terbentang dari sabang sampai marauke, dari miangas sampai pulau rote adalah merupakan hamparan permadani yang luas dan indah.

Pulau-pulau yang tersusun dia antara lautan yang luas, yang luasnya lebih besar dari daratan, dengan begitu Indonesia merupakan negara yang kaya, kaya akan hasil sumber daya alamnya, dan kaya akan sumber daya manusiannya. Hal tersebut dibuktikan bahwasanya Indonesia merupakan negara kepulauan yang dihuni berbagai macan suku, bangsa, budaya, dan bahasa.

Berbicara tentang sumber daya manusia yang ada di Indonesia makan kita tidak akan lepas dari perjalanan bangsa kita dari jaman yang kita sebut nusantara karena keragaman suku dan bangsa, maka ide dan narasi Indonesia sangatlah kompleks. Kompleksitas bangsa Indonesia di sebabkan banyaknya suku, dan budaya yang hidup di nusantara ini, sejarah telah banyak mencatat kondisi ini.

Kondisi sejarah yang pertama terjadi adalah sumpah pemuda tanggal 28 oktober 1928, yang akhirnya merupakan tonggak sejarah berdirinya sebuah bangsa baru, yang merupakan draft pembentukan sebuah negara atau bangsa baru.

Kejadian ini bisa di tandakan sebagai gelombang awal terbentuknya negara Indonesia, dan terus berkembang dari gelombang pertama, berlajut ke gelombang ke dua dan pada akhirnya masuk kedalam fase ke tiga yaitu saat ini.

Setiap gelombang atau masa terdapat banyak tokoh, pemikir, ulama, orator, visioner, cendekiawan, dan lain-lain, dan
dari semua itu lahirlah para pemimpin-pemimpin yang dalam hal ini pemimpin bangsa, pemimpin kelompok, pemimpin organisasi, sampai akhirnya pemimpin sebuah negara, yang saat ini kita bahas adalah INDONESIA.

Pemimpin Indonesia dari masa ke masa dan jika kita bagi jadi beberapa tahapan atau gelombang pergerakan, maka kita bisa simpulkan dan bagi kedalam beberapa tahapan atau gelombang. Ada gelombang pertama, ke dua ,dan ketiga.

Karakteristik pemimpin kita pada saat itu, dulu dan sekarang berbeda beda, kondisi ini terbentuk dikarenakan situasi yang terjadi pada saat itu.

Jika kita bagi kedalam beberapa fase, fase 1 diawali dengan kebangkitan nasional 1908 dengan adanya tokoh-tokoh Douwes Dekker atau 3 serangkai yang akhirnya terus bergulir sampai akhirnya lahir sumpah pemuda 1928 yang mempersatukan Nusantara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya sehingga muncul Bhineka Tunggal Ika.

Gelombang terus beriak dan akhirnya lahirlah sebuah bangsa baru dan negara baru dengan di proklamasikannya sebuah negara baru yaitu Negara indonesia dengan pemimpin yang pertama yaitu Bung Karno. Beliau lah pemimpin pertama sebuah negara baru yang dinamakan indonesia itu. Dan beliau lah cermin, dari perjalanan bangsa kita baik itu dari segi bicara, narasi, dan pemikiran ideologi bangsa baru ini yaitu indonesia.

Seorang pemimpin bukanlah malaikat atau tuhan yang tidak ada nafsu, pemimpin merupakan sosok manusia biasa yang terdapat kekurangan atau pun kelebihan.

Pemimpin pemimpin di indonesia lahir dari serententan kejadian, dari zaman Bung Karno, Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Gusdur, Presiden Megawati, Presiden SBY, dan sampai ke Presiden Jokowi, semuanya melewati fase-fase atau kejadian-kejadian yang berbeda.

Dalam sejarah peradaban bangsa Indonesia sifat religius dan semangat kegotong royongan menjadi ciri khas masyarakatnya. Hal ini yang membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sangat toleran, menerima segala macam perbedaan serta mampu menanggalkan rasa keegoan golongan demi tercapainya cita bangsa.

Ada paradok besar yang terjadi ditengah kehidupan berbangsa kita; bahwa langit kita terlalu tinggi, namun sayang kita terbang terlalu rendah. Pencapaian yang diperoleh Indonesia belum maksimal padahal kita memiliki potensi sumber daya yang luar biasa besarnya.

Untuk menjadi negara maju dan kuat, kita membutuhkan lompatan yang lebih besar.
Perbedaan dan perpecahan akibat politik pembelahan antar golongan telah kita lewati bersama. Dan bangsa ini sudah cukup dewasa dalam menyikapi keberagaman. Karena semua kebhinekaan kita telah melebur dalam satu ikatan bangsa Indonesia dan Pancasila sebagai falsafah dasar bernegara yang sudah final.

Para pemimpin cenderung terjebak pada politik oligarki dan dinasti. Padahal di era sekarang yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah ide dan gagasan baru untuk menjadi bangsa yang besar.

Tujuan bernegara dan peta jalan untuk menjadi bangsa besar tidak dimiliki oleh para pemimpin kita. Akibatnya terjadi krisis narasi dan krisis kepemimpinan saat ini melanda bangsa yang berpenduduk dua ratus tujuh puluh juta jiwa lebih.

Perubahan politik global ditambah bonus demografi serta kekayaan alam yang kita miliki serta lahirnya generasi baru yang berpengetahuan, sebenarnya ini sangat menguntungkan. Namun jika para pemimpin bangsa kita tidak mengerti cara mengelolanya sudah dipastikan bangsa yang besar ini akan jalan di tempat bahkan bisa saja malah mundur ke belakang.

Bangsa Indonesia harus memiliki narasi dan ide baru untuk membawa Indonesia menjadi kekuatan baru dunia. Perubahan sosial dalam sejarah peradaban manusia selalu dimulai dari ide atau gagasan, setelah itu baru manusianya sebagai aktor penggerak.

Dimasa sekarang dan yang akan datang, Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang mampu menjadi permadani bagi bangsanya sendiri. Dimana semua anak bangsa dapat duduk bersama, sama rata menikmati keindahan berbangsa dan bernegara yang berdaulat.

Pemimpin Indonesia yang mengerti tentang sejarah bangsanya, faham akan keberagaman yang dimiliki dan mengetahui peta arah perjalanan menjadi bangsa besar. Sehingga mampu menggelorakan dan meng-Indonesiakan seluruh potensi yang dimiliki anak negeri dari Sabang hingga Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote.

Kita rindu akan kepemimpinan para pendahulu dan pahlawan bangsa ini. Jika kita melihat dan mengkaji keberhasilan para pemimpin dunia, setidaknya mereka memiliki sifat kepemimpinan yang kuat.

Seorang pemimpin adalah para pemikul beban bukan sekedar pemberi beban. Indonesia membutuhkan pemimpin berkarakter pemikul beban. Sifat dari pemimpin pemikul beban, diantaranya :

• Berpengetahuan
Seorang pemimpin harus memiliki ilmu pengetahuan, dengan ilmu dia mampu melihat dan menganalisa permasalahan sehingga dapat memutuskan dengan keputusan yang tepat dan cermat.

• Tanggung jawab
Setiap ucapan dan tindakan yang dilakukan pemimpin akan menjadi contoh atau row model bagi pengikutnya. Sehingga seorang pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan dan putuskan. Mengambil tanggung jawab penuh atas perbuatannya dan prilaku rakyat atau anggotanya.

•Berani
keberanian penting dimiliki oleh seorang pemimpin, keberanian adalah modal utama dalam perubahan. Sebuah inovasi tidak akan ada tanpa keberanian. Keberanian ada dua sisi, keberanian kognitif yaitu keberanian dalam ekplorasi dan keberanian sosial yaitu pembelaan pada suatu nilai yang benar.

• Dermawan
Dermawan adalah sifat para nabi dan rasul, salah satu sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Keinginan berbagi dan berkolaborasi para pemimpin terhadap apa yang dia miliki sangat dinantikan. Kedermawanan secara psikologi diberikan dalam bentuk kasih sayang dan kedermawanan secara sosial adalah faktor pemersatu.

• Sabar/ikhlas
Kesabaran dan keikhlasan seorang pemimpin bangsa ini sangatlah di perlukan, Keberhasilan tidak datang ujug-ujug namun berproses. Menikmati proses perjalanan dengan memaksimalkan kemampuan yang dimiliki akan memberikan ketenangan. Keberhasilan ada caranya dan kegagalan itu ada sebab-musababnya.

Indonesia pada saat ini merindukan pemimpin yang dapat menjadi pengendara atau pun seperti permadani bagi bangsanya sendiri, bangsa besar yang bisa juga di sebut permadani zambrud khatulistiwa, seorang pemimpin yang dapat mengorkestrakan itu semua menjadi sebuah irama yang cantik yang dapat memanjakan rakyatnya, yang memiliki harapan, yang harus bisa dilewati oleh seorang pemimpinya.

Oleh karena itu pemimpin yang besar adalah pemimpin yang harus memiliki karakter pemimpin pemikul beban, karena Manusia dilahirkan bukan sekedar hidup, akan tetapi menjadi perwakilan Tuhan di muka bumi untuk membawa nilai-nilai ketuhanan agar dapat memberikan kemakmuran bagi umat lainnya. Itulah beban kita,
maka jadilah Generasi Pemimpin Pemikul Beban.

 

oleh. Benny Sofyan S.E
Pengurus DPD Partai Gelora kota Pekanbaru, Riau

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *