Kualitas Air Buruk, Warga GCC Bikin Forum dan Ajukan Tuntutan

  • Share
Kualitas Air Buruk, Warga GCC Bikin Forum dan Ajukan Tuntutan
Kantor Water Treatment Plant Grand Cikarang City, Desa Karangraharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Minggu, 18 Juli 2021. (Foto: Kontributor Urbantimes.id)

Urbantimes.id – Kualitas air yang buruk menjadi persoalan menahun yang dihadapi warga Grand Cikarang City, Desa Karangraharja, Kecamatan Cikarang Utara.

Kesabaran warga pun menemui titik didih. Warga yang diwakili oleh Forum RT-RW Grand Cikarang City kini dengan tegas menuntut perbaikan kualitas air.

Kualitas air disebut buruk lantaran air berbau, dan terkadang berwarna hijau dan berbusa. Singkat kata, air tak layak konsumsi, pun untuk mandi atau mencuci piring.

Karena itu warga pun harus menggunakan air isi ulang untuk keperluan mandi, cuci piring, dan masak. Untuk mengisi botol bervolume 19 liter, warga harus mengeluarkan kocek Rp5.000.

Ikuti akun medsos Urbantimes.id di bawah ini:

Ketua Forum RT-RW Grand Cikarang City, Ilyas Isa Agi, mengatakan kondisi ini sudah berlangsung sejak sekitar tahun 2018 atau 2019-an.

“Kalau dipakai mandi itu air gatal-gatal. Jadi warga sini terpaksa membeli air isi ulang untuk mandi dan masak,” ucap Ilyas saat ditemui wartawan, Minggu, 18 Juli 2021.

“Puncak (kekesalan warga, Red) tahun 2020. Kita adakan aksi untuk shock terapi ke WTP. Kita dikasih kompensasi 50 persen untuk pembayaran WTP 3 bulan,” sambung dia.

Pada waktu 3 bulan itu, kualitas air menjadi lebih baik. Akan tetapi, setelah itu kualitas air kembali memburuk dan hal itu bertahan hingga hari ini.

Kualitas Air Buruk, Warga GCC Bikin Forum dan Ajukan Tuntutan 02
Air di salah satu bak milik warga RW Grand Cikarang City. (Foto: Warga GCC)

Dalam sebulan warga harus merogoh kocek Rp13.000 untuk biaya lingkungan, dan Rp12.000 untuk biaya abonemen (langganan) air.

Tarif air WTP yang dikelola PT GCC Tirta Utama Pertiwi itu seharga Rp3.800 untuk 10 meter kubik pertama, Rp4.800, untuk 10 meter kubik kedua, dan Rp6.500 untuk sepuluh meter kubik ketiga.

Ilyas menuturkan saat warga mendatangi manajemen WTP, mereka beralasan sumber air baku yang menjadi kendala kualitas air untuk warga perumaan yang berpenduduk sekitar 6.500 jiwa itu menurun.

“Kita minta ada mediasi dari pihak WTP, PDAM, Pemdes, dan anggota DPRD habis Lebaran nanti,” kata dia.

“Kita juga minta perbaikan sistem yang sekarang bermasalah. Kita minta kompensasi pembayaran mulai bulan Agustus 75 persen sampai air layak pakai lagi,” kata dia.

Soal sampah juga jadi komplain warga kepada pihak pengelola iuran pengelolaan lingkungan (IPL).

“Sampah seharusnya ditarik seminggu sekali. Mulai awal 2021 mulai gak rutin, kadang 10 harian baru diambil. Sampah warga udah sampai ada belatungnya,” demikian dia.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *