Relevankah Kurikulum Ralph Tyler Pada Pembelajaran Qur’an dan Hadist di Tingkat Sekolah Dasar di Masa Pandemi Covid-19?

  • Share
Relevankah Kurikulum Ralph Tyler Pada Pembelajaran Qur’an dan Hadist di Tingkat Sekolah Dasar di Masa Pandemi Covid-19?
Ralph W. Tyler (Foto: Google)

Urbantimes.idSeiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi, banyak adaptasi dan juga perbaikan yang harus dilakukan dan dihadapi terkhusus pada ranah pendidikan dan kurikulum, guna menciptakan sistem pendidikan yang tepat dan benar. Karena, banyak pergantian kurikulum sebagai sistem didalam pendidikan yang masih banyak perbaikan sehingga sulit untuk menemukan problem solving yang harus dibenahi kedepannya. Di Indonesia khususnya, sudah hampir dua belas kali berganti kurikulum tetap saja mengalami permasalahan yang tidak jauh dari kurikulum-kurikulum sebelumnya.

Pendidikan sebagai wadah untuk setiap manusia dapat berpikir logis, cerdas, dan proses sebuah pendewasaan yang dilakukan dengan latihan dan pengajaran. Melalui pendidikan, seorang manusia mampu bersikap dewasa, bertanggung jawab, serta membina jasmani dan rohani yang baik. Pendidikan mengarahkan manusia pada pola pikir yang rasional, mengasah kemampuan, ketrampilan, serta melatih mental. Seperti yang tertulis pada UU No. 20 tahun 2003, pendidikan adalah sebuah usaha dasar yang dilakukan guna menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat mengeksplor potensi didalam dirinya secara aktif untuk menumbuhkan kekuatan spiritual keagamaan, kecerdasan, pengendalian diri, kepribadian, serta akhlak mulia yang dibutuhkan oleh masyarakat, bangsa, dan negara. (ruangguruku.com, 2021)

Hal ini, masih jarang terjadi di Indonesia. Khususnya pada tingkat SD. Banyak anak anak SD di Indonesia yang mirisnya sudah mulai terpengaruhi oleh pergaulan yang diluar batas umurnya. Pengaruh ini dapat terjadi karena ruang lingkupnya yang tidak dikendalikan oleh orang tuanya sendiri. Sehingga mereka bebas dalam berperilaku dan tidak memiliki norma agama yang baik. Padahal di usia mereka yang masih dini, peran pendidikan dalam mengarahkan siswa pada ranah keagamaan sangat penting dan krusial. Sehingga pandangan mereka tentang agama, Islam khususnya dapat di praktekan dalam kehidupan sehari hari. Upaya preventif pendidikan pun sangat bermanfaat untuk dapat menanggulangi kenakalan mereka di usia dini ini. (Sudarsono, 2005, hlm. 92) Misalnya, mengajarkan sifat dan sikap teladan Nabi Muhammad Saw dalam melihat suatu hal yang baik maupun buruk.

Anak dalam pendidikan karakter yang lemah, dengan sulit membedakan mana hal yang baik maupun yang buruk. Itulah sebabnya, kurangnya pendidikan Qur’an dan Hadist dalam pembelajaran mereka di sekolah. Pada akhirnya, kenakalan yang terjadi dapat dilakukan oleh atas kesadaran diri sendiri maupun ajakan dari lingkungan sekitar atau teman sebaya nya. Contoh perilaku menyimpang siswa SD yang sekarang sudah menjadi rahasia umum adalah mudahnya mereka dalam mengakses video ataupun gambar berbau pornografi. Hal itu terjadi kurangnya pengetahuan keagamaan serta arahan dari guru, orang tua, maupun lingkungan sekitar (Darwis, Abu, 2006)

Pada masa pandemi Covid-19 ini, Indonesia pun dalam bidang pendidikan betul-betul bekerja keras menciptakan inovasi pembelajaran yang efektif. Di tingkat SD, sekarang ini banyak lembaga pendidikan yang memulai transformasi pembelajaran yang cukup ideal, yaitu dengan konsep Blended Learning. Blended Learning ini adalah menggabungkan antara pembelajaran konvensional atau tatap muka dengan pembelajaran online atau virtual. Sehingga memang banyak tenaga yang dibutuhkan untuk tenaga pendidik untuk menyiapkan berbagai banyak hal untuk memberikan keefisiensi pembelajaran menggunakan konsep Blended Learning tersebut. (Cut Nadia, M Rahmah, 2021)

Kelemahan yang diciptakan oleh konsep pembelajaran Blended Learning ini, ialah kebebasan siswa untuk dapat mengakses internet dan juga gadget. Menimbulkan kekhawatiran tersendiri, lantaran dizaman sekarang anak usia 7-13 tahun sudah mulai paham bagaimana mengoperasionalkan internet. Terlebih luasnya menjaring informasi didalamnya membuat siswa terbawa pada pengaruh buruk internet, misalnya disengaja atau tak sengaja siswa melihat hal-hal yang berbau pornografi. Sehingga hal-hal seperti inilah yang harus dicegah.

Dari berbagai macam problematika tentang kurikulum dan pendidikan di Indonesia diatas, perlu adanya sebuah solusi dan perbaikan. Sekiranya sangat menarik jika model pengembangan kurikulum Tyler diimplementasikan pada pembelajaran Qur’an dan Hadist pada tingkat Sekolah Dasar. Dimana pada tingkatan ini, peserta didik memiliki sistem operational konkrit dalam penggunaan logika yang memadai, serta menarik kesimpulan dan informasi yang tersedia. (Sugiyanto, 2021)

Kurikulum Tyler yang ringkas, padat, dan dapat dilakukan sesuai dengan visi suatu institusi pendidikan. Sehingga kurikulum ini, dirasa menarik untuk di telaah dan dikaji lebih dalam terkhusus pada pembelajaran Qur’an Hadist yang didalamnya memuat banyak pembelajaran keagamaan islam yang rahmatan lil alamin. Pada tujuannya, pembelajaran Qur’an Hadist ini mampu membuat siswa lebih memahami kandungan didalam Al Qur’an dan Hadist, serta meyakini kebenarannya lalu kemudian dijadikannya pedoman dalam seluruh aspek kehidupan. Hal ini menjadi fungsi istimewa, dibandingkan dengan lainnya yang mampu mengintegrasikan secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan beragama.

Mata Pelajaran Qur’an Hadist di Sekolah Dasar pada Model Kurikulum Tyler

Mata pelajaran Al Qur’an Hadist hadir di tingkat Sekolah Dasar guna mengajarkan kepada para siswa isi, kandungan, serta implikasinya didalam kehidupan sehari-hari. Terlebih pada pembelajaran mengenai adab dan moral didalamnya. Saat pada usia inilah ilmu pengetahuan tersebut sangat dibutuhkan dan diperlukan. Pasalnya, perkembangan zaman yang semakin cepat membuat arus globalisasi mengarah kepada mereka. Walaupun usia mereka terbilang masih sangat anak-anak, tetapi dari usianya yang masih dini lah yang mudah diombang-ambing oleh zaman. Maka dari itu, perlunya pendidikan keagamaan didalam Al Qur’an hadist tersebut.

Salah satu model kurikulum yang memberikan dasar pembelajaran sesuai dengan visi institusi adalah model pengembangan kurikulum Tyler. Sebagai bapak kurikulum, Tyler sudah memaparkan dasar-dasar kurikulum didalam pendidikan. Namun masih banyak juga yang salah menginterpretasikan konsep kurikulum beliau. Kedangkalan dalam pengkajiaannya menyebabkan kesalahan interpretasi dalam penerapannya, bahkan cenderung menghindarinya. (McDermott, Joanne, 2012)

Melalui kurikulum Tyler, suatu institusi pendidikan dapat menyusun pembelajaran Al Qur’an dan Hadist secara sistematis. Substansi dalam pembelajaran Al Qur’an Hadits memiliki kontribusi cukup baik. Memberikan motivasi kepada peserta didik dalam mengimplementasikan kandungan dari Al Qur’an maupun Hdist didalam kehidupannya sebagai manifestasi keimanannya kepada Allah Swt, malaikat-malaikat, Kitab-kitab, para rasul, hari kiamat, dan beriman atas segala takdir baik dan buruk yang diterimanya. Hal ini juga dalam rangka mengantisipasi dampak negatif era globlisasi terkhusus di Indonesia. Sehingga siswa dapat membedakan suatu hal yang baik maupun yang buruk.

Pembelajaran Al Qur’an dan Hadist merupakan gabungan antara materi Al Qur’an dan materi Hadist. Kedua aspek tersebut tidak hanya fokus pada lini pengetahuan dan sprititual saja. Tetapi lebih kepada manifestasi sebuah perilaku yang tumbuh dari peserta didik guna mengembangkannya di kehidupan sehari-harinya. Pemerintah Indonesia pun, menyelenggarakan pembelajaran Al Qur’an Hadist agar dapat membangun keimanannya serta dapat disandarkan atas kebaikan kepada Allah Swt dan berhubungan baik sesama manusia.

Gambar 1. Beberapa siswa di Sekolah Dasar sedang tilawah Qur’an

Tyler pun mengkaji suatu kurikulum dilihat dari segi psikologi peserta didik nya. Sehingga hal yang ia konsep kan menjadi sebuah gambaran bahwa, pengalaman yang dirasakan oleh peserta didik harus sesuai dengan kebutuhan dalam hidupnya. Pembelajaran Al Qur’an Hadist di tingkat SD, sangat krusial terlebih pada kondisi psikologis nya. Mempelajari Al Qur’an dan hadist dapat mensejahterahkan rohani dan mencerahkan akal pikiran seorang manusia. Mempelajari Al Qur’an dan hadist pun juga merupakan kewajiban seorang muslim dalam meyakini adanya kitab-kitab Allah Swt.

Konsepsi Pelajaran Qur’an Hadist di Sekolah Dasar pada Model Kurikulum Tyler

Mengkonsepkan pembelajaran Al Qur’an Hadist pada ranah SD, sebetulnya cukup mudah untuk digambarkan dan dikembangkan. Sehingga yang harus diperhatikan dalam pembelajaran ini ialah segi kebutuhan yang dibutuhkan oleh peserta didik. Terlebih pada konsep pengembangan kurikulum Tyler yang cukup padat, sehingga bisa menjadi wadah untuk dapat merancang akan seperti apa pembelajaran Qur’an Hadist diterapkan.

Melihat dari surat edaran yang diberikan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia, yaitu KMA nomor 183 tahun 2019. Menerangkan dan menjabarkan kompetensi inti yang harus dididik dan diajarkan kepada peserta didik. Misalnya, pada kelas dua semester genap pelajaran Qur’an hadist yang berbunyi “Menerima dan menjalankan perintah agama yang dianutnya” (Keputusan Menteri Agama, 2019, hlm. 79)

Memang ada beberapa kendala dan hal yang harus diperhatikan juga, bahwa tidak selalu konsep yang sudah di rencanakan harus berjalan dengan lancar. Alasannya adalah pada setiap konsep yang direncanakan belum tentu juga sesuai dengan hasil yang ada dilapangan. Maka dari itu evaluasi terhadap konsep yang dibuat harus melalui pengkajian yang cukup dalam. Terlebih pada segi psikologis peserta didik. Ketika psikologis peserta didik dapat dipahami oleh guru, maka mudah saja untuk penyampaian pembelajaran oleh guru kepada peserta didik.

Gambar 2. Guru sedang menanyakan perihal pendapat siswa tentang agama

Psikologis anak-anak dibangku SD, terbilang sangat mudah terangsang untuk dapat bereaksi pada tuntutan dalam mengembangkan kemampuan intelektualitasnya. (Dewi, Dr. Rahmita, 2019) Terlebih pada perkembangan psikososial yang dialaminya, sehingga dengan mudah tumbuh dan terpengaruh oleh kondisi dan situasi lingungan disekitarnya. Maka, perlu juga bimbingan dan pengawasan dari lingkup sekolah untuk dapat mengarahkannya pada etika dan norma keagamaan yang sebelumnya sudah di ajarkan. Hal ini juga mencegah guna terjadinya kenakalan-kenakalan yang dialami oleh anak seumuran mereka.

Pada akhirnya, konsep yang dikaji secara matang akan melahirkan pembelajaran yang nyaman, baik dan sistematis. Itulah juga tujuan dari model kurikulum Tyler, lebih mengarah pada pembelajaran yang sistematis dan mudah di jangkau oleh seluruh peserta didik atau tenaga pendidik.

Desain Model Kurikulum Tyler dalam Pelajaran Qur’an Hadist di Sekolah Dasar

Ralph W. Tyler dilahirkan pada 22 April 1902 di Chicago, USA. Beliau adalah seorang akademisi dari Amerika yang menggeluti bidang pendidikan pada ranah penilaian dan evaluasi. Ia mendapatkan kepercayaan dari pemerintah setempat untuk dapat menduduki jabatan tertentu di menteri pendidikan saat itu. Sehingga beliau memiliki wewenang dalam pembuatan undang-undang pendidikan dasar dan menengah pada tahun 1965.

Buku yang dikarang oleh Tyler yang berjudul Basic Principiles Curriculum And Instruction (1949). Tyler mengatakan bahwa “Curriculum development weeded to be treated logically and systematically”. Beliau memaparkan bagaimana seseorang dapat berpikir rasional, menganalisis suatu hal, menginterpretasi kurikulum, dan program pembelajaran dari suatu institusi pendidikan. Kemudian, Tyler memaparkan bagaimana suatu kurikulum dapat dikembangkan dengan baik, yaitu harus menempatkan empat posisi ini dengan tepat juga. Yaitu yang berkaitan dengan objectives, instructional strategic and content, organizing learning experiences, assessment and evaluation. (Idi, Abdullah, 2011, hlm. 178)

Tyler memang tidak menyebutkan konsep pengembangan kurikulumnya secara luas. Tapi, beliau memberikan dasar-dasar dalam pengembangan kurikulum yang nantinya akan menjadi gambaran dan patokan dalam mengembangkan kurikulum, yaitu:

Bagan 1. Model Pengembangan Kurikulum Tyler

Pada bagan diatas, menggambarkan hal apa saja yang harus diperhatikan dalam mendesain sebuah kurikulum menurut Tyler. Pertama, Tujuan pendidikan yang diharapkan. Sebuah kurikulum jika ingin mengembangkan kurikulum yang baik, benar, dan sistematis haruslah merencanakan tujuan seperti apa yang ingin dicapai. Jika dikaitkan dengan pembelajaran Qur’an Hadist, tujuan yang diharapkan ketika siswa mempelajari mata pelajaran tersebut dapat mengembangkan serta mengokohkan keimanannya kepada Allah Swt serta selalu mencintai Nabi Muhammad Saw. Karena, pada setiap sisi materi yang diajarkan adalah kalamullah dan sikap, perbuatan Rasul yang senantiasa indah jika diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Kedua, Menentukan pengalaman belajar. Hal ini sangat berpengaruh untuk siswa dalam proses pembelajarannya. Karena, pengalaman belajar yang nantinya akan dirasakan oleh siswa menjadi pembelajaran tersendiri di masa depannya nanti. Berbagai pengalaman yang dihasilkan jika seorang siswa mempelajari mata pelajaran Qur’an Hadist maka ia senantiasa mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar. Tanpa adanya sebuah penimpangan jika pengalaman belajar sudah didapatkannya.

Ketiga, Mengorganisasi pengalaman belajar. Setelah melakukan penentuan saat inilah pemantauan atau pengorganisasian dari pengalaman belajar dilakukan. Karena, efektivitas pembelajaran terlihat jika siswa dapat diorganisir dengan baik pengalamannya. Hal ini dapat mencegah terjadinya pengalaman buruk yang ditimpanya. Seperti ketika siswa mempelajari Qur’an Hadist disekolahnya, namun ketika sesi hafalan Qur’an surah pendek siswa yang tidak mudah menghafal dicemooh oleh gurunya. Sehingga hal yang terjadi adalah menjatuhkan mental seorang anak yang dimana diumurnya yang masih rentan terhadap gangguan mental akan membekas sampai ia dewasa. Hal seperti inilah yang harus dicegah ketika pembelajaran Qur’an Hadist jika di organisir dengan buruk.

Keempat, Mengevaluasi efektivitas pengalaman belajar. Dari kejadian diatas, evaluasi yang dapat dilakukan ketika siswa sulit menghafal Qur’an surat pendek alangkah baiknya untuk tetap bersikap lemah lembut sebagai pendidik. Sehingga mental siswa tidak jatuh dan tidak terganggu oleh cemoohannya. Kemudian, bisa juga melakukan dan memberikan tugas kepada siswa yang sulit dalam menghafal untuk membaca surat pendek terus berkali-kali sehingga apa yang ia baca setiap kali dapat perlahan-lahan melekat dalam otaknya. Itulah gambaran evaluasi pada pengalaman belajar seorang siswa yang memiliki kelemahan dalam menghafal Al Qur’an.

Itulah desain pengembangan kurikulum model Tyler yang diimplikasikan pada pembelajaran Al Qur’an Hadist pada tingkat SD. Memang perlu adanya sebuah kehati-hatian untuk dapat menerapkan kepada anak usia 7-13 tahun, Karena, hal itu dapat mempengaruhi pengalaman belajarnya sampai ia dewasa. Sehingga jika desain kurikulum yang dipaparkan oleh Tyler diterapkan dengan baik dan benar lalu sesuai dengan visi suatu lembaga pendidikan, maka sukseslah pembelajaran dan pendidikan yang diselenggarakan pada lembaga tersebut. Kemudian, dapat mencetak generasi Qur’ani yang memiliki intelektual global dan dapat berkembang menjadi seorang ilmuwan muslim yang tetap berpegang teguh pada Al Qur’an dan Hadist.

 

Oleh :

  1. M Bintang Fadhlurrahman, mahasiswa Ilmu Al Qur’an dan Tafsir S1 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
  2. Malia Fransisca, M. Pd.I, dosen di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

 

DAFTAR PUSTAKA

Cut Nadia, M. Rahmah, pada artikel “Seefektif Apa Metode Blended Learning dalam Proses Belajar Anak? Ini Penjelasan Pakarhttps://id.theasianparent.com/blended-learning diakses pada 16 Juni 2021.

Darwis, Abu, “Pengubahan Perilaku Menyimpang Murid Sekolah Dasar”, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan) 2006.

Dewi, Dr. Rahmita, pada artikel “Bagaimana Karakteristik dan Kondisi Psikologis Anak SD ?”https://www.sehatq.com/forum/karakteristik-dan-kondisi-psikologis-anak-usia-2 tahun-q18016 diakses pada 8 Juni 2021.

Idi, Abdullah, “Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek”, (Jakarta: Ar-Ruzz Media) 2011, hlm. 178.

Keputusan Menteri Agama, “Kurikulum PAI dan Bahasa Arab pada Madrasah” (Jakarta : Kementrian Agama) No. 183.

McDermott, Joanne, “Looking Back to Move Forward: A View of Nursing Education through the Theoretical Lens of Dewey, James and Tyler”, (Nurse Education Today : Vol. 32 No. 8) 2012.

Ruangguruku.com pada artikel “Pengertian Pendidikan Menurut Ahli” https://ruangguruku.com/pengertian-pendidikan-menurut-ahli/ diakses pada 2 Juni 2021.

Sudarsono, “Latar Belakang Kenakalan Remaja”, (Bandung : Alumni Press) 2005.

Sugiyanto, Pada artikel “Karakteristik Anak Usia SDhttp://staffnew.uny.ac.id/upload/132319838/pengabdian/Karakteristik+Siswa+SD.pdf/ diakses pada 2 Juni 2021.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *