KTP-el Indonesia dengan Luar Negeri, Canggih Mana?

  • Share
ktp-el indonesia dan luar negeri
(Atas) KTP di Belanda, dan (bawah) KTP di Malaysia. (Foto: istimewa)

Urbantimes.id – Banyak kelakar yang membahas tentang KTP-el Indonesia, yang sudah berlabel elektronik tetapi masih dibutuhkan fotokopi dalam mengurus sejumlah dokumen. Apakah di luar negeri juga sama? Apa sebenarnya perbedaan KTP-el Indonesia dengan luar negeri.

Kita mulai dari Eropa, pemilik kartu dapat menggunakan berbagai macam fasilitas yang disediakan pemerintah hanya dengan membawa kartu identitas.

Mulai dari naik angkutan umum, melakukan pembayaran, pembukaan rekening baru, sampai pelayanan kesehatan.

Dengan begitu, pemilik kartu tidak perlu mengisi formulir hanya dengan menyerahkan kartu identitas untuk dibaca pada alat yang terpasang di kasir maupun loket sudah bisa menikmati fasilitas yang diberikan.

Tak hanya itu, saat membeli obat ke apotek, petugas akan langsung memberikan obat sesuai dengan resep dokter tanpa harus memberikan kertas resep karena data kesehatan sudah ada dari Rumah Sakit.

Negara tetangga yaitu Malaysia e-KTP sudah jauh ketinggalan. Identitas elektronik tersebut dinamakan MyKad. Identitas ini wajib dimiliki seluruh penduduk permanen berusia di atas 12 tahun.

MyKad memiliki banyak fungsi yaitu untuk lisensi berkendara, dokumen perjalanan serta informasi kesehatan dan mempermudah transaksi pembayaran.

Pemerintah Malaysia mengeluarkan program MyKad sebagai kartu identitas multifungsi. Hanya dengan satu kartu, warga Malaysia memiliki identitas nasional, SIM, catatan imigrasi dan kesehatan, alat bayar transportasi dan layanan perbankan.

Jadi, berdasarkan tulisan di atas ternyata perbedaan KTP-el Indonesia dengan luar negeri berbeda jauh ya.

Bahas dikit soal KTP-el Indonesia deh

KTP-el atau Kartu Tanda Penduduk merupakan dokumen penting yang wajib dimiliki setiap warga negara. Namun, dilihat dari negara lain KTP-el yang digunakan canggih dan modern.

KTP-el merupakan sebuah program pemerintah bertujuan untuk mewujudkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) tunggal kepada setiap penduduk di Indonesia sesuai dengan UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki pendataan penduduk dengan meluncurkan Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau disebut KTP-el menuai banyak masalah.

Pelayanan publik dalam pembuatan e-KTP di Indonesia masih dinilai sulit dan dikatakan buruk. Bahkan, banyak masyarakat menganggap pembuatan KTP-el menyusahkan.

Akibatnya, masih banyak warga yang belum memiliki KTP-el karena dianggap menyulitkan mereka. Selain itu, besarnya nilai proyek menimbulkan banyak keterlibatan orang di dalamnya yang meraup untung besar.

Diketahui, proyek KTP-el mencapai Rp6,9 trilliun saat pertama kali diedarkan. Sayangnya, meski sudah dikatakan elektronik tetap saja mendaftar rumah sakit, sekolah atau membuka rekening bank masih harus mengisi dengan formulir.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *