Aku, Masker, dan Bandung Siaga Satu

  • Share
bandung siaga satu
Ilustrasi. (Foto: Ikhsanico Henda Pratama dari Pexels)

Urbantimes.idSejak Bandung siaga satu, masyarakat diminta untuk memperketat penerapan protokol kesehatan di mana pun, dan dalam kondisi apa pun.

Stasus Bandung siaga satu bukan tanpa alasan, kini Bandung memiliki kasus Corona dengan total 21.442 ribu sejak awal kasus terjadi pada Maret 2020.

Tak tanggung-tanggung, beberapa wilayah di Bandung bahkan memasuki zona hitam yang artinya menggambarkan tingkat penularan yang sangat tinggi di suatu wilayah.

Bagi gue ini adalah berita tersuram mengalahkan assignment animasi. Satu per satu wilayah Indonesia berada di titik tertinggi dalam kasus Corona.

Setahun lebih bertaruh dengan virus yang menyerang pernapasan, bukan berita baik yang di dapat justru sebaliknya.

Berita, artikel, foto dan video menunjukkan data kasus corona yang membludak, tenaga medis yang harus jungkir balik menguatkan mental.

Ini bukaan lagi mengenai kesembuhan tapi nyawa mana yang dapat diselamatkan, jumlah yang tak terbendung membuat semua rumah sakit hampir 90 persen penuh diisi oleh pasien Corona.

bandung siaga satu (2)
Maskerku untuk keamanan kamu, begitu pun maskermu. (Foto: Anna Shvets dari Pexels)

Mengerikan bukan? Gue harus dihadapkan kembali dengan keganasan virus yang terus bermutasi ini. Sekedar pergi mengambil delivery food pun membuat gue harus semprot disinfektan sana-sini.

Tiba saatnya gue memiliki kesempatan untuk keluar dari tempat perlindungan diri, pemandangan sejumlah pejalan kaki dan pedang tidak menggunakan masker membuat gue terdiam selama perjalanan.

Setelah pemberitaan dan aturan-aturan yang diberikan pemerintah, mereka seperti mental, tutup mata, dan telinga. Pedagang makanan yang harus menjaga jualannya untuk tetap steril itu terlihat santai duduk tanpa menggunakan masker.

Saat itu rasanya gue ingin menyelami pikiran mereka-mereka yang tidak menggunakan masker. Apa alasan terberatnya hingga sekedar mengaitkan kain di wajahnya pun tidak ia laksanakan.

Terserah mereka jika tidak percaya mengenai virus ini, tapi virus ini adalah penyakit menular dan dapat membahayakan orang lain disekitarnya.

Puluhan orang meregang nyawa di sebuah rumah sakit apakah kurang meyakinkan mereka mengenai virus ini?

Walau pun begitu gue sangat mengapresiasi dengan mereka yang aware dan dengan ketat menjalankan prokes.

Pada sebuah pemberhentian terlihat sejumlah mobil polisi dan brimob secara bergiliran berpatroli untuk memberikan awareness mengenai virus ini.

Dengan lantang mereka berkata “Gunakan maskernya!”

Mendengar hal itu beberapa orang yang dengan asal menggunakan masker langsung sigap menutupi hidungnya dengan masker.

Bagi gue ini adalah tanggung jawab bersama untuk memberantas virus ini. Toh nyawa kita pula yang menjadi taruhannya jika terus menerus meremehkan dan mengganggap hal tabu virus ini.

Tak ada salahnya menyayangi diri kita sendiri dengan hanya menerapkan protokol kesehatan, ini juga bukan sesuatu yang meruigikan jika dilaksanakan.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *