100 Hari Kerja Kapolri di Bidang Radikalisme dan Terorisme

  • Share
Pelaku teror gereja katedral Makassar yang tertangkap kamera CCTV

Oleh : Kurnia Widodo, ST,

URBANTIMES, BANDUNG – Penanganan radikalisme dan terorisme oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia mengalami kemajuan yang sangat baik sesuai target yang dicanangkan oleh Kapolri dalam program 100 harinya.

Meskipun ada kejadian bom gereja katedral Makassar dan teror mabes polri oleh seorang wanita “lone wolf”, sebelumnya Polri telah menangkap sekitar 70 tersangka teroris sejak awal Januari  sebagai upaya penggagalan tindak terorisme atau preventive strike. Dan puluhan lainnya pasca kejadian tersebut, yang mana ditemukan senjata dan amunisinya serta bom TATP berjenis high explosive (daya ledak tinggi).

Dalam kejadian bom gereja Makassar Polri secara cepat menemukan identitas pelaku melibatkan kamera cctv yang berhasil mendapatkan visual kedua pelaku suami-istri tersebut. Hal ini sesuai dengan program teknologi era police 4.0 yang dicanangkan Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo.

Tantangan kepolisian bahwa kasus-kasus teror kerap dituduh sebagai rekayasa pemerintah dalam mengalihkan isu-isu politik dapat segera dijawab dengan baik melalui pengungkapan identitas, saksi-saksi dan bukti-bukti otentik jejak para pelaku.

Bahkan pendekatan kekeluargaan dan kemanusiaan dalam penanganan terorisme sekarang lebih terasa. Sejak dari penangkapan kepolisian sudah melibatkan psikolog, sebagai bentuk penegakan hukum yang lebih manusiawi dan tanggung jawab publik dalam penguatan komunikasi terhadap publik.

Ikrar seorang tokoh JAD (jamaah anshoru daulah /afiliasi ISIS) untuk setia kepada NKRI dan keluar dari kelompok radikal

Juga wujud dari pencegahan konflik sosial, terutama dari keluarga dan masyarakat di lingkungan pelaku teror /kelompok radikal. Upaya ini dilakukan berdasarkan dari pengalaman penangkapan dimana pelaku kadang melibatkan wanita dan anak-anak. Hal-hal ini juga dicanangkan oleh Kapolri dalam program 100 harinya.

Kemudian, saat pelaku sudah di dalam lapas, kepolisian bekerja sama dengan kemenkumham, dalam hal ini pihak lapas, ikut membantu merumuskan proses deradikalisasi, seperti melakukan ikrar kesetiaan kepada NKRI dan mensosialisasikan berita ikrar tersebut agar menjadi pemicu deradikalisasi bagi teman-teman komunitasnya yang masih radikal.

Tidak berhenti di situ, setelah pelaku bebas ada program selanjutnya, dimana  BIK (Badan Intelkam Kepolisian) dan detasemen densus 88 AT ikut membantu pemberdayaan ekonomi mantan pelaku dan bagaimana agar mereka dapat diterima di masyarakat lingkungannya.

Masalah terorisme tidak dapat selesai jika “hulu” nya tidak diperhatikan, yaitu paham dan gerakan intoleransi. Intoleransi adalah ladang subur bagi tumbuhnya radikalisme dan terorisme. Hal ini tidak luput dari perhatian Kapolri. Dengan tegas dan sigap kepolisian membatasi dan memproses hukum  gerakan-gerakan intoleran seperti HTI dan FPI.

Bahkan kepolisian berhasil menangkap anggota kelompok FPI di Condet dan Bekasi dimana ditemukan bahan peledak jenis TATP. Juga kepolisian menangkap jubir FPI Munarman, karena ikut dalam baiat kepada amir ISIS Abu Bakar al Baghdadi di tiga tempat acara, yaitu Jakarta, Makassar dan Medan. Hal ini adalah sebagai wujud percepatan penyelesaian penanganan kasus-kasus yang menjadi perhatian publik.

Dilain pihak, Polri dengan cepat menanggapi laporan komnas HAM tentang kasus penembakan laskar FPI, ini adalah aplikasi dari program Kaplori dalam penegakan hukum yang berkeadilan, meskipun hal tersebut melibatkan pelaku dari aparat kepolisian itu sendiri. Tak butuh waktu lama, kepolisian dengan cepat menaikkan kasus ini dari penyelidikan ke penyidikan. Semua proses tersebut dilakukan dengan transparan. Secara garis besar program 100 hari Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo telah berhasil dengan baik. Bravo Kepolisian Republik Indonesia.

 

Penulis : Kurnia Widodo, ST. Eks pelaku terorisme, narasumber masalah radikalisme dan terorisme, ketua yayasan genggam perdamaian bandung (komunitas eksnapiter yang telah kembali kepada NKRI)
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *