Meningkatkan Budaya Berkirim Surat Sebagai Semangat Literasi

  • Share
Siti Vita Fatihmah Spd
Siti Vita Fatimah, S.Pd.

Oleh: Siti Vita Fatimah, S.Pd.

Pada era kemajuan teknologi saat ini surat sudah kurang dilirik oleh siswa sebagai sarana komunikasi. Siswa saat ini sibuk menggunakan gadget mereka dan menggunakan aplikasi digital sebagai sarana komunikasi seperti Line, Whatsapp, Facebook dan Instagram. Oleh karena itu surat pribadi dianggap perlu diajarkan agar meningkatkan kemampuan menulis dan berbahasa ini tidak hilang.

Budaya berkirim surat perlu ditingkatkan kembali untuk menciptakan semangat literasi pada siswa. Siswa sudah jarang menulis selain mengerjakan tugas sekolah mereka. Untuk siswa di daerah maju, mereka sibuk menggunakan aplikasi komunikasi digital yang membuat mereka jarang menulis dan memperhatikaan ejaan yang baik dan benar.

Dalam Bahasa Inggris ada empat keterampilan. Keempatnya adalah keterampilan mendengarkan, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Dalam hal ini, sekolah yang mayoritas laki-laki dan merasa kesulitan untuk memahami mata pelajaran bahasa inggris karena memang bahasa inggris adalah bahasa asing. Sebagian besar siswa merasa bahwa bahasa Inggris itu adalah bahasa asing yang memiliki kesulitan yang tinggi ketika hendak mempelajarinya.

Betapa pun baiknya pikiran, gagasan, perasaan, dan pengalaman seseorang jika tidak mahir menyusun kalimat yang terulang akan menyebabkan pembaca tidak tertarik untuk membaca dan memahami tujuan kalimat tersebut. Dengan demikian siswa SMK apalagi yang mayoritas adalah laki-laki dalam menyampaikan pikiran, perasaan dan gagasan yang komunikatif salah satunya melalui bahasa yang komunikatif dalam surat. Dalam penulisan surat dibutuhkan kemahiran menyusun kalimat yang baik, benar, dan logis. Berdasarkan pernyataan tersebut, masalah kalimat merupakan hal yang penting dan harus dikuasai oleh siswa SMK dalam menulis surat terutama surat pribadi.

Tujuan pembelajaran menulis yang tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2013 menyatakan bahwa siswa mampu menulis kreatif, menyunting karangan sendiri atau karangan orang lain dengan memperhatikan penggunaan ejaan, tanda baca, pilihan kata, struktur kalimat, dan kepaduan isi karangan.

Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dinyatakan bahwa salah satu komponen dasar yang diharapkan dapat dicapai siswa adalah menulis surat pribadi dengan memperhatikan komposisi, isi, dan bahasa dengan indikator pencapaian hasil belajar, yakni (1) mampu menentukan komposisi surat resmi dengan surat pribadi, (2) mampu menulis surat pribadi dengan bahasa yang komunikatif, dan (3) mampu menyunting surat (Depdiknas, 2002:315).

Untuk mencapai tujuan pembelajaran maka tidak lepas dari model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Model pembelajaran menurut Tardif dalam Muhibbin Syah (2010: 198) adalah “cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian mata pelajaran kepada siswa”. Prosedur baku tersebut digunakan oleh guru untuk mengajar di kelas. Selain itu dengan metode pembelajaran dapat membantu guru dan memudahkan dalam penyampaian materi kepada siswa.

Salah satu model pembelajaran yang cocok dalam hal ini adalah Discovery Learning. Discovery Learning adalah suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku (Hanafiah, 2012: 77).

Tujuan pembelajaran menggunakan metode discovery learning adalah untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam memperoleh dan memproses perolehan materi pelajaran, mengarahkan siswa agar mengurangi ketergantungan kepada guru sebagai satu-satunya sumber informasi yang diperlukan peserta didik, dan melatih siswa untuk mengeksplorasi lingkungan sebagai sumber informasi untuk pembelajaran.

Semoga artikel ini dapat memberikan sedikit pencerahan kepada para pelaku pendidikan khususnya peserta didik untuk melakukan inovasi dan kreasi pembelajaran daalm berliterasi di abad 21 seperti sekarang ini yang lebih mengutamakan sesuatu hal yang praktis.

Daftar Pustaka

Depdiknas (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas
Hanafiah. (2012). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.
Syah, Muhibbin. (2012). Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

*Biodata Penulis

Nama : Siti Vita Fatimah, S.Pd
Profesi : Guru Bahasa Inggris
Instansi : SMK Al Karamah Peterongan Jombang
Pendidikan Terakhir : S1 Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Jombang
Email : phieta1988@gmail.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *