Peranan Budaya Dalam Pendidikan

  • Share
Peranan Budaya Dalam Pendidikan

Oleh : Lina Herliawati, S.S

Sampai saat ini mungkin masih ada masyarakat Indonesia yang belum bisa baca tulis. Penyebabnya masih banyak penduduk yang SDM nya sangat rendah dan kurang mampu secara ekonomi. Hal ini bisa kita temukan di pelosok-pelosok negeri yang tidak terjangkau oleh fasiitas yang memadai. Namun berbagai cara untuk menanggulanginya sudah diterapkan dan membuahkan hasil sekian persen untuk memberantas keterbelakangan masyarakat.

Pewarisan kebudayaan dapat dilakukan dengan sarana pendidikan, baik formal, maupun nonformal. Agar tradisi kebudayaan tetap hidup dan berkembang setiap masyarakat dapat mewariskannya kepada generasi yang lebih muda melalui pendidikan. Namun dalam konteks kebudayaan banyak orang mempertanyakan pendidikan kita. Mengapa sistem pendidikan tidak memperkuat dan mengembangkan budaya sendiri? Mengapa bangsa kita mudah terpengaruh oleh budaya asing? Mengapa budaya asli kita tidak dapat menahan intervensi globalisasi yang dating? Apakah pendidikan kita selama ini sudah dapat dijadikan sebagai sarana pewarisan budaya atau tidak?

Pertanyaan-pertanyaan ini menggambarikan kegelisahan tentang bagaimana sebenarnya pendidikan berperan. Pendidikan yang selama ini diharapkan sebagai upaya pembentukan perilaku/proses pembudayaan dan penanaman nilai-nilai kultur, ternyata belum berhasil membawa peserta didik untuk mengembangkan sikap dan kebudayaan sendiri, justru mereka terperangkap dalam kotak budaya (cultural contact) dengan budaya asing yang belum tentu memiliki nilai yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, nilai-nilai yang selama ini melekat dalam masyarakat (karifan lokal) perlu dikembangkan melalui pendidikan nasional, karena secara tidak langsung dalam proses pebelajaran (pendidikan) di sekolah telah terjadi proses pembudayaan kepada peserta didik.

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik, potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat befungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, harmonis, dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Salah satu unsure dari kebudayaan itu adalah ilmu pengetahuan. Menurut Suriasumantri (1999), ilmu dapat dipandang sebagai produk, proses dan paradigm etika. Sebagai produk, ilmu merupakan hasil dari kegiatan sosial yang berusaha memahami alam, manusia dan perilakunya baik secara individu atau kelompok. Apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, merupakan hasil penalaran (rasion) secara objektif. Ilmu sebagai proses, berarti ilmu diperoleh dari hasil keilmuan yang diakui secara umum dan universal sifatnya. Oleh karena itu ilmu dapat diuji kebenarannya, sehinga tidak mustahil suatu teori yan sudah mapan dapat ditumbangkan oleh teori lain. Ilmu sebagai paradigm etika, karena ilmu selain universal, komunal, juga alat meyakinkan sekaligus skeptic, tidak begitu saja mudah menerima kebenaran (Soelaeman, 2001).

Dalam konteks pembangunan masyarakat (community) development Leagans (2000) mengatakan bahwa pendidikan (education) itu sebagai alat untuk melakukan perubahan dalamkehidupan manusia dalam 4 bidang, yaitu:

  1. Changes in what people know – their knowledge of themselves, of their society and of their physical environment.
  2. Changes in what people can do – their skills, mental and physical.
  3. Changes in what people think and feel – their attitude toward themselves, toward their society and toward their physical environment.
  4. Changes in what people actually do – their actions related to factors determining their own walfare.

Lebih lanjut, Leagans memberikan definisi dan fungsi pendidikan, sebagai berikut: “Defined simply, education an any form is the production of changes in human behavior – changes in what people know, in what they think, in what they can do and what they actually do. Viewed broadly, education is the most potent force yet discovered for moulding a free society into desired form. It is the most basic means available in a society for promoting things ‘good’ or ‘bad’. Guiding it properly and making it effective, therefore, is a high level responsibility and a wastly complex undertaking. All modern societies place education at the top, or near top, in their value system as a means of promoting progress by the people.”

Berdasarkan uraian-uraian di atas bahwa pendidikand alam masyarakat adalah sebagai alat untuk: mengembangkan potensi diri masyarakat, mencerdaskan bangsa, serta merubah sikap untuk memperoleh kemajuan. Bahkan pendidikan harus ditempatkan pada posisi yang ebih tinggi sebagai alat untuk memperoleh kemajuan.

 

Daftar Pustaka

Idris, Z. dan L.Jamal, 1992. Pengantar Pendidikan: Jakarta. Grasindo.
Syamyu Yusuf, 2006. Perkembangan Anak dan Remaja: Bandug. PT. Rineka Cipta.
Saifullah, Ali. (1982). Pendidikan-Pengajaran dan Kebudayaan : Pendidikan Sebagai Gejala Kebudayaan, Surabaya : Usaha Nasional.
Thung, Khoe Yao., (2001). Pendidikan dan Riset di Internet, Dinastindo, Jakarta

Profil Penulis

Nama : LINA HERLIAWATI, S.S
Profesi : Guru Bahasa Inggris
Instansi : SMA Yadika Kalijati
Pendidikan Terakhir : S1 – Sastra Inggris Universitas Pasundan – Bandung
Email : herlialina1704@gmail.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *